Mengurus Paspor Sendiri — Kantor Imigrasi Jakarta Selatan… 2007

Setelah saya cek sendiri, ternyata post ini menduduki link ke 3 pada hasil search “kantor imigrasi jakarta selatan” di google. Oleh sebab itu saya edit post ini agar lebih jelas menceritakan pengalaman saya pada tahun 2007. Saat ini? Tentu saja ada perbedaan, dan kita selalu berharap selalu menjadi lebih baik. Saran utama bagi yg hendak mengurus paspor adalah untuk melakukannya sedini mungkin.

Kebetulan saya harus mengurus perpanjangan paspor yg sudah habis masa berlakunya. Untuk mengurusnya, saya harus 3 kali ke kantor imigrasi. Pertama untuk mengisi formulir, dan menyerahkan paspor lama. Untuk perpanjangan, yang diserahkan fotokopi akte kelahiran, akte nikah (bagi yang sudah/sedang saja), fotokopi Kartu Keluarga, fotokopi KTP dan paspor lama asli. Proses pada hari ini dapat diwakilkan dengan surat kuasa, karena hanya menyerahkan dokumen. Setelah itu, anda dipersilahkan pulang, dan disuruh datang kembali (kira2 2 minggu). Karena kebetulan saat itu saya sedang kerja praktek, keluar gerutuan saya “Entah dari mana hak mereka menentukan jadwal. Seolah2 kita tidak memiliki pekerjaan atau kesibukan lain.” Maklum, masih pengalaman kerja pertama, itupun kerja praktek, alias masih mahasiswa :P

Minggu Kedua, saya tidak tahu apa yg dilakukan oleh kantor imigrasi selama seminggu/dua minggu yang berlalu. Mungkin memeriksa daftar cekal (buron) :P Tapi 2 minggu ini tidak dapat dilongkap dengan jalur khusus perwakilan/travel, melirik pengalaman teman yang lewat agen :P Pada hari ini sy harus melakukan administrasi pembayaran, foto, dan wawancara. Disinilah hari yang melelahkan. Sungguh tidak ramah sekali prosesnya. Saya lupa detailnya, tetapi saya ingat harus bolak-balik naik turun ke lantai 2. Pertama utk membayar paspor, kemudian foto biometrik dibawah, kemudian membayar lagi diatas. Untuk pemuda yang sehat seperti saya tidak masalah, senang saja olahraga. :D Tapi apakah pemuda itu tega melihat seorang ibu2 tua yang jarang olahraga :P

Setelah itu yang dilakukan menunggu hingga jam 3 sore untuk foto. Ya… tempat tunggunya panas sekali meskipun ada kipas angin, dengan TV yang suaranya tidak terdengar. Untungnya ada penjual yang menawarkan teh botol. Keadaan sekitar tidak mendukung. Bangunannya terlihat seperti rumah yang dibuat menjadi kantor. Pada saat wawancara, saya ditanyakan nama, alamat, dan data diri saya sendiri. Setelah itu saya ditanyakan hendak kemana, saya jawab studi. Kemudian diminta oleh petugas utk menyiapkan surat rekomendasi pada pengambilan paspor. Saya yang sedang kerja praktek di Jakarta mengirim email ke Kantor Hubungan Internasional kampus untuk memohon surat bukti bahwa saya akan melakukan program pertukaran pelajar. Sungguh tidak enak sekali rasanya meminta instansi utk segera mengirim surat ke rumah saya.

Setelah dua kali bolak-balik ke kantor imigrasi, pagi ini sy ngambil paspor. Saya datang membawa surat rekomendasi yg telah diminta. Sy berangkat jam 7 dari kantor di Jl. Gatot Subroto yang juga sebelah jalan Mampang/Warung Buncit. Oh ya, ini pertama kalinya saya naik busway loh (iklan). :D

Sampai di imigrasi jam 7.20an, bersiap menunggu jam buka: 8. Untung teman saya datang. Ngobrol2 sampai jam 8. Saat mengantri, lamaa banget tidak ada yang melayani, ternyata menunggu petugas mencari kunci lemari Paspor Baru!!!

Konyol sekali, setelah 15 menit, kunci gembok akhirnya mulai digergaji!!! Seperti maling aja… Setelah aksi “pembobolan” itu berhasil, saya mendapatkan paspor itu(40 menit lamanya). Saya balik ke kantor naik busway cuma 10 menit, jalan 5 menit ke kantor. (iklan lagi) Oh iya, surat rekomendasi? Sia-sia. Ada juga ya hobi mempersulit hidup orang lain. Hebat. :D

Menurut sy mengurus paspor sendiri tidak praktis, mesti bolak-balik 3 kali ke kantor, mesti naik-turun tangga 5 kali buat ke loket pembayaran, mesti ngalah giliran foto dengan orang yang “bayar lebih” padahal saya dateng lebih pagi!!! Yach, begitulah pelayanan publik di Indonesia, sebenernya bisa dibuat mudah dan cepat, tetapi justru dengan dibuat lama agar ada jasa-jasa! (ini tahun 2007 ya, mudah2an berubah)

Oh ya, posisi toilet berdiri (pria), sempit sekali dijepit tembok. Sehingga tidak bisa digunakan, sampai saya foto saking herannya… untuk pelayanan publik yang lebih santun, profesional, dan beradab.


About this entry