Akhir2 ini saya membaca banyak tulisan menarik, khususnya mengenai idealis-pragmatis. Sebelum menulis lebih jauh, saya coba uraikan dahulu apa arti kedua kata tersebut:
Idealist:
1. impractical person: a perfectionist who rejects practical considerations
2. somebody with high ideals: somebody who aspires to or abides by high standards or principle(Idealis: 1. orang tidak praktis, perfeksionis. 2. orang dengan idealisme tinggi, prinsipil)
Pragmatism:
1. way of thinking about results: a straightforward practical way of thinking about things or dealing with problems, concerned with results rather than with theories and principles2. way of evaluating theories: a philosophical view that a theory or concept should be evaluated in terms of how it works and its consequences as the standard for action and thought.
(Pragmatis: 1. Memikirkan hasil, praktis, daripada teori dan prinsip. 2. evaluasi teori akan cara kerja dan konsekuensinya, sebagai dasar tingkah laku dan pikiran
(quote dari Encarta)
Contoh idealis, seorang pegawai yang gajinya pas-pasan, setiap perjalanan dinas mengembalikan sisanya hingga sepeser, sama sekali tidak ingin mengambil yang bukan haknya karena itu merupakan prinsip. Dan prinsipnya tidak pernah dilanggar. Meskipun mungkin menghambat pengembangan dirinya (karir, keluarga, dll). (Orang seperti ini betul2 ada di Indonesia, percayalah, meski hanya dibawah 1% jumlah penduduk Indonesia).
Contoh sikap pragmatis, pegawai yang gajinya saja tidak memenuhi kebutuhannya, lingkungan di kantor yang “korupsi berjamaah”. Tanpa mempertimbangkan prinsip atau peraturan agamanya, ikuti saja kegiatan berjamaah tersebut, karena hasilnya karir lebih baik, uang pun dapat. (Mungkin 89,99% penduduk Indonesia, korupsi berjamaah: mengurus ktp, sim, uang belanja, uang bensin, dll)
Lalu apa yang mesti kita lakukan bila dihadapkan situasi antara idealis-pragmatis seperti ini?
Saya menulis post ini setelah membaca tulisan2 menarik di milis alumni ITB yang tinggal di Amerika Utara. Ada yang berpendapat, di Indonesia kekurangan orang pragmatis. Sebaliknya ada yang berpendapat, “kaum” pragmatis selama ini (baca: orde baru, reformasi) hanya memikirkan jangka pendek yg pro investor asing, jadi kekurangan orang idealis. Sungguh senang sekali membaca diskusi yang terbuka, egaliter, menghargai perbedaan, dan bersikap tenang saat dikritik.
Situasi idealis-pragmatis ini juga terjadi dalam masalah kepulangan ke tanah air. Apakah pulang, tapi dengan keadaan yang kurang (pendapatan/lingkungan kerja). Atau tetap bekerja di luar negeri, mengembangkan diri, belajar hingga saatnya kondusif untuk pulang? Seandainya pemerintah menyadari potensi dari kaum terpelajar di luar negeri, tentu keadaan lebih baik untuk pulang. Tapi itu diluar kendali. Pragmatis tetap di luar dan idealis pulang? Bagaimana bila pulang namun tidak mampu mewujudkan ideal-nya? Sebetulnya tidak bisa divonis apakah keputusan yang diambil itu idealis atau pragmatis, karena banyak faktor pribadi.
Diskusi ini masih hangat, dan yang sebetulnya melegakan adalah tujuan yang sama, untuk Indonesia yang lebih baik. Meskipun dengan keyakinan yang berbeda-beda, semoga saja diskusi membawa pada strategi dan taktik yang baik.
Adapun post milis yang memberikan sebuah link ke artikel Time mengenai Nelson Mandela.
“For Mandela, refusing to negotiate was about tactics, not principles.
Throughout his life, he has always made that distinction. His
unwavering principle — the overthrow of apartheid and the achievement
of one man, one vote — was immutable, but almost anything that helped
him get to that goal he regarded as a tactic. He is the most pragmatic
of idealists.”
Untuk mencapai tujuan dengan berhasil, sepertinya memang diperlukan keseimbangan antar keduanya. Dalam agama Islam pun, makanan yang haram pun bisa menjadi halal bila tidak ada/memungkinkan makan yang halal. Begitu pula dengan tayammum, bila tidak ada air bersih tentunya. Namun dalam kondisi normal, ketentuan harus ditaati. Mengajarkan tentang sikap pragmatis-idealis dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama tetap ideal, tetapi pelaksanaannya dengan pragmatis. Dengan keduanya bisa mencapai tujuan dengan strategi yang baik.
Hmm, saya berubah2, dulu idealis sekali, sempat pragmatis, lalu sekarang, mencari jalan terbaik dengan mempertimbangkan keduanya
…. Sisi idealis berpikir apa tujuan, dasar, dan norma/values dalam kehidupan, sedangkan sisi pragmatis mempertimbangkan konsekuensi suatu tindakan dalam jangka waktu tertentu. Selama ini, Anda lebih cenderung memilih yang mana?
July 23, 2008 at 10:29 am
Artikel yang bagus,..
saya sendiri juga sedang berdebat dengan 2 hal tersebut, mencari pembenaran yg paling tepat dari kedua nya
July 24, 2008 at 1:55 pm
Thanks for the comment…
Dua-duanya diperlukan dalam pertimbangan..
Smoga berhasil..
August 24, 2008 at 6:45 pm
Kadang terlalu rumit mempertimbangkan keduanya, gampangnya tinggal turutin aja hati nurani yg paling dalam, biasanya itu solusi yg terbaik bagi kita. Asalkan hati kita gak terlalu kotor aja