Alumni 1977 ITB ke kampus

Tadi pagi saya ke Bandung. Tujuannya: menilai sidang presentasi tugas akhir calon kru divisi komputer di himpunan. Tiba-tiba dateng rombongan alumni ITB angkatan 77. Spontan kami menyambut kedatangan alumni, tentu mereka bernostalgia ria. Saya dapet banyak pelajaran dari alumni setelah ngobrol2.

Mahasiswa harus proaktif, jangan hanya responsif. Contohnya, saat ini himpunan sedang melakukan penelitian tentang solar cell. Hasil penelitian dan pengembangan ini dapat diterapkan di rumah untuk menyediakan daya listrik sendiri, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada listrik dari PLN. Sebaiknya dilakukan kerjasama dengan perusahaan properti yang besar, asal proposal direncanakan dengan matang, pihak properti pasti mau menerima sebagai nilai tambah dari produk properti. Kita tidak bisa menunggu di”order” pihak luar, di dunia serba cepat kini, yang responsif akan jauh tertinggal dengan yang proaktif.

Dalam bisnis, ada semacam “teori malas”, dimana tidak semua pekerjaan itu harus kita lakukan semua, kalau bisa ditugaskan ke pihak luar, kita bisa fokus ke hal lain yang lebih penting. Saya mendengar kata-kata ini dari saudara sepupu saya, dan setelah saya ngobrol dengan alumni (yang sebagian besar direktur/pengusaha), ternyata gagasan mereka memang cenderung mendukung teori tersebut.

Untuk menghidupkan kembali Elektron (majalah elektronika himpunan EL ITB) yang sudah lama tertidur, banyak hal harus dilakukan.
Pertama, jalin kontrak dengan perusahaan, untuk iklan, distribusi dan percetakan. Iklan akan sangat membantu pembiayaan dan menambah content majalah. Percetakan dan distribusi, sebaiknya diurus oleh perusahaan yang sudah memiliki jaringan hingga ke pelosok nusantara, sehingga mahasiswa dapat fokus ke isi dan pengembangan majalah (selain itu mahasiswa tidak akan sempat mengurus distribusi majalah).

Kedua, tentu, gagasan penerbitan kembali “ELEKTRON” harus didukung oleh divisi workshop dan divisi komputer yang akan memberikan artikel setiap edisi, dengan imbalan tentunya. Penulis artikel tidak harus mahasiswa, bisa dosen maupun pihak luar. Namun, setelah itu bahasa yang digunakan harus di-edit agar tidak terlalu kaku sehingga mudah dipahami oleh pelajar/mahasiswa.

Oh ya, cuplikan kata-kata terakhir dari salah satu alumni:
“Nikmati masa-masa ini, kami nggak bisa kembali lagi ke masa kalian…”
“Tapi ya….sekarang nikmat juga sih…wuahahaaa…”
“Konsep dimulainya hidup bagi pria dan wanita itu kebalikan. ‘Hidup’ wanita dimulai saat terikat. Sedangkan ‘hidup’ pria berakhir saat terikat….”

Cheeerrss!!!

Posted on August 26, 2007, in Inspiration. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. “Konsep dimulainya hidup bagi pria dan wanita itu kebalikan. ‘Hidup’ wanita dimulai saat terikat. Sedangkan ‘hidup’ pria berakhir saat terikat….”

    Ini pikirannya buaya darat…
    Jangan-jangan lo punya pikiran kaya’ gini juga Ran

  2. Hmm, itu kan kata-kata salah satu alumni.

    Memang ‘petualangan’ seorang pria tidak berhenti saat terikat, namun jelas dengan bertambahnya beban keluarga maka setiap langkah yang diambil dalam hidup tidak sebebas sebelum terikat.

    Oleh sebab itu, selagi bebas jangan takut untuk mencoba hal baru dan belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: